Segala puji hanya milik Allah Ta’ala,
shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah dengan benar
melainkan Allah Ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku
juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah
seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du;
Surat Al Kautsar ini adalah surat yang berisi
penjelasan akan nikmat yang banyak yang telah dianugerahkan pada Rasul
–shallallahu ‘alaihi wa sallam-, berisi pula perintah untuk shalat dan
berqurban hanya untuk Allah dan akibat dari orang yang membenci Rasul
–shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
(2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu;
dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang
terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Makna
Al Kautsar
Allah Ta’ala telah
menyebutkan sebagian nikmat yang dikaruniakan kepada Nabi kita Muhammad
-shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah Ta’ala berfirman pada Nabi kita
Muhammad,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak”, maksudnya Kami telah menganugerahkan nikmat
padamu (wahai Muhammad) dan juga Kami telah memberikan padamu Al Kautsar yaitu
sungai di surga yang dijanjikan untuk Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa
sallam-. Dan sungai itu adalah telaga Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam.
Terdapat hadits dalam
shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak
nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya,
“Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu
surat.” Lalu beliau membaca,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ
“Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan
berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”
(QS. Al Kautsar: 1-3). Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al
Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ
خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ
إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
“Al Kautsar adalah sungai
yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan
yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari
kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit.
Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah
berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.”
(HR. Muslim no. 400).
Ada pelajaran berharga dari
Ibnu Katsir mengenai cerita tentang surat Al Kautsar di atas, Beliau berkata,
“Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al Kautsar adalah surat
Madaniyah. Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian
dari surat ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:
476). Namun Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jumhur (mayoritas ulama) termasuk Ibnu
‘Abbas berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9:
247)
Ibnul Jauzi merinci ada
enam pendapat mengenai makna Al Kautsar:
Al Kautsar adalah sungai di
surga.
Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri.
Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah.
Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’.
Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249)
Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri.
Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah.
Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’.
Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249)
Nikmat Dibalas dengan
Syukur
Syaikh Musthofa Al ‘Adawy
berkata, “Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika
diberi nikmat akan dibalas dengan syukur. Maka kebaikan yang banyak yang telah
diberi ini dibalas dengan:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat karena
Rabbmu; dan berqurbanlah.” (Tafsir Juz ‘Amma, Musthofa Al ‘Adawi, hal. 293)
Dirikan Shalat dan Qurban
Hanya untuk Allah
Yang dimaksud: Maka
dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah, adalah jadikanlah shalatmu
hanya karena Allah dan jangan ada niatan untuk yang selain-Nya. Begitu pula
jadikanlah hasil sembelihan unta ikhlas karena Allah. Jangan seperti yang
dilakukan oleh orang-orang musyrik di mana mereka melakukan sujud kepada selain
Allah dan melakukan penyembelihan atas nama selain Allah. Bahkan seharusnya
shalatlah karena Allah dan lakukanlah sembelihan atas nama Allah. Sebagaimana
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُسْلِمِينَ (163)
“Katakanlah: sesungguhnya
shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada
Allah)." (QS. Al An’am: 162-163)
Qotadah berpendapat bahwa
yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’
adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas,
‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249)
Yang Membenci Nabi,
Merekalah yang Terputus
Ayat terakhir,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya orang-orang
yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Yang
dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya yang terputus dan tidak ada lagi
penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya. Orang-orang Quraisy menyatakan
demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memiliki keturunan
laki-laki (semuanya meninggal dunia). Maka Allah pun membalasnya dengan
meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan
belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan. Sedangkan yang
memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang. (Keterangan dari Musthofa Al
‘Adawi, Tafsir Juz ‘Amma, hal. 294).
Ibnul Jauzi mengatakan
bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah terputus dari kebaikan (Zaadul Masiir, 9:
251).
‘Ikrimah berkata bahwa yang
dimaksud ‘abtar’ adalah bersendirian. As Sudi mengatakan bahwa dahulu jika ada
seseorang yang anak laki-lakinya meninggal dunia, maka disebut abtar (batar).
Ketika anak laki-laki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia,
orang-orang Quraisy mengatakan, “Bataro Muhammad (Muhammad terputus).” (Lihat
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)
Ibnu Katsir menjelaskan,
“Yang dimaksud abtar adalah jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan
lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung). Inilah kejahilan orang-orang musyrik.
Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan
disanjung-sanjung. Padahal tidak demikian. Bahkan beliaulah yang tetap
disanjung-sanjung dari para syahid (tuan) yang lain. Syari’at beliau tetap
berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia dikumpulkan dan kembali.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)
Surat ini kata Syaikh
Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berisi penjelasan mengenai nikmat yang
diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu
beliau dikaruniakan kebaikan yang banyak. Kemudian di dalamnya berisi perintah
untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah lainnya atas dasar ikhlas
karena Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa siapa yang membenci Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci satu saja dari ajaran beliau,
merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak mendapatkan kebaikan dan barokah
(Tafsir Juz ‘Amma, 281).
Semoga shalawat dan salam
senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari
kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar).
KAJIAN SURAT AL-KAUTSAR: KENIKMATAN TIADA TARA
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Aku bersaksi, tidak ada
Tuhan yang berhak untuk disembah dengan benar melainkan Allah Ta’ala
semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa
Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah seorang hamba dan
utusan-Nya. Amma ba’du;
Satu lagi,
di antara surat-surat pendek yang sering kita dengar dan baca, yang
mengharuskan kita untuk lebih paham makna dan isi kandungannya, serta
mengetahui hukum dan pelajaran yang tersirat di dalamnya, yaitu Surat
Al-Kautsar.
Asbabun
Nuzul
Salah satu
riwayat yang masyhur tentang sebab turunnya surat ini adalah, dahulu kaum
Quraisy mencela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tatkala keturunan
terakhir beliau wafat dengan mengatakan bahwa kenikmatan kepada Rasulullah
telah ‘terputus’. Maka dengan turunnya surat ini menjadi bantahan terhadap kaum
Quraisy.
Surat ini
turun ketika Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sedang tidur ringan,
kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Lalu beliau ditanya oleh
para shahabat: “Kenapa Anda tersenyum, wahai Rasulullah?
Baru saja
turun kepadaku suatu surat. Lalu beliau membacakannya kepada para shahabatnya,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ
Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah
shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci
kamu dialah yang terputus.” (QS.
Al-Kautsar: 1-3)
Kemudian
beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang
lebih mengetahui”, jawab para shahabat.
Maka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ
كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ
عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ
أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Artinya:
“Al-Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai
tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan
didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut
sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum
dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka
telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (H.R.
Muslim)
Itulah
kisah masyhur tentang asbabun nuzul Surat Al-Kautsar ini.
Luasnya
Karunia Allah
Sungguh,
betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Ta’ala kepada
kita. Setiap hari silih berganti, kita merasakan satu nikmat kemudian beralih
kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya
akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa
untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini
tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih
sayang Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita
menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran
dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat.
Puncaknya
adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu
sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk
dari kedzaliman di atas kedzaliman.
Allah Ta’ala telah
menyebutkan sebagian nikmat yang dikaruniakan kepada Nabi kita Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kepada umat beliau.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak” (QS Al Kautsar: 1)
Yang
dimaksud ‘Al-Kautsar’ menurut Abul Fida’ Ibnu Katsir
Rahimahullah adalah telaga yang panjangnya perjalanan satu bulan dan lebarnya
juga perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari
madu. Bejanannya sebanyak dan semengkilap bintang-bintang di langit. Baunya
lebih harum dari minyak kasturi. Siapa yang meminum seteguk darinya, maka dia
tidak akan merasa haus selamanya. Dan sungai ini adalah bagian dari nikmat yang
banyak, yang diberikan Allah kepada umat Rasulullah.
Menurut
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah, setidaknya ada enam pendapat mengenai
makna Al-Kautsar diantaranya;
Pertama, Al Kautsar adalah sungai di surga. Kedua, Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak
yang diberikan pada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu.
Ketiga, Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian
pendapat Al Hasan Al Bashri. Keempat, Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian),
sebagaimana pendapat ‘Ikrimah. Kelima, Al Kautsar adalah telaga
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang banyak manusia
mendatanginya. Demikian kata ‘Atha’. Keenam, Al-Kautsar adalah begitu banyak
pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyas.
Dari
sekian nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada kita, mari kita
mencoba menghitungnya.
Sudah
berapakah dalam kalkulasi kita nikmat yang telah kita syukuri dan dari sekian
nikmat yang telah kita pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita
menemukan kalkulasi yang baik, maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena
Dia telah memberimu kesempatan yang baik. Jika kita menemukan sebaliknya maka
janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.
Setiap
orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian
Allah Ta’ala. Tahukah anda apa rahasia dibalik pemberian Allah Ta’ala tersebut?
Mensyukuri
Nikmat Allah
Setelah
menyebutkan nikmat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan juga kepada kita pada umumnya, pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala
memerintahkannya kepada kita untuk mensyukuri nikmat itu dengan menjadikan
shalat dan sembelihannya hanya untuk Allah Ta’ala. Tidak seperti orang-orang
musyrik yang bersujud dan menyembelih (binatang) untuk selain Allah, seperti
patung, para wali dan lain sebagainya.
Syaikh
Musthafa Al ‘Adawy berkata, “Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat,
tentu ketika diberi nikmat akan dibalas dengan syukur. Maka kebaikan yang
banyak yang telah diberi ini dibalas dengan:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya:
“Dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.”(Q.S.
Al-Kautsar: 2)
Yang
dimaksud, ‘maka dirikanlah shalat karena Rabbmu’ dan
berqurbanlah, adalah jadikanlah shalatmu hanya karena Allah dan jangan ada
niatan untuk yang selain-Nya. Begitu pula jadikanlah hasil sembelihan unta
ikhlas karena Allah. Jangan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik di
mana mereka melakukan sujud kepada selain Allah dan melakukan penyembelihan
atas nama selain Allah. Bahkan seharusnya shalatlah karena Allah dan lakukanlah
sembelihan atas nama Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُسْلِمِينَ (163)
Artinya:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S. Al An’am: 162-163)
Abu
Qatadah Rahimahullah berpendapat, yang dimaksud ‘shalat’ di sini adalah shalat
Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha
sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Mujahid dan mayoritas ulama.
Dua macam
ibadah ini secara khusus disebut karena keduanya merupakan ibadah yang paling
utama dan yang paling mulia. Shalat mengandung ketundukan kepada Allah Ta’ala,
di hati dan di anggota badan. Sedangkan menyembelih adalah bentuk pendekatan
diri kepada Allah dengan harta berharga yang dimiliki manusia, yaitu onta, sapi
dan kambing. Padahal jiwa manusia itu secara kodrati amat mencintai harta.
Tiada
Kebaikan bagi Pencela
Kemudian
Allah Ta’ala berfirman, ‘wahai Muhammad, sesungguhnya orang yang membenci dan
mencelamu itulah yang terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan nama
baiknya.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Q.S. Al-Kautsar: 3)
Yang
dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam akhirnya yang terputus dan tidak ada
lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya.
Orang-orang
Quraisy menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam tidak lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal
dunia). Maka Allah pun membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau.
Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga
hari pembalasan. Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di
belakang.
Ibnu
Katsir menjelaskan, yang dimaksud ‘Al-Abtar’ adalah
jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan lagi disebut-sebut
(disanjung-sanjung). Inilah kejahilan orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa
jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung.
Padahal
tidak demikian. Bahkan beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para syahid
(tuan) yang lain. Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat
saat manusia dikumpulkan dan kembali.”
Secara
umum, pada surat ini menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, berisi
penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada
Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu beliau dikaruniakan kebaikan
yang banyak.
Kemudian
di dalamnya berisi perintah untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah
lainnya atas dasar ikhlas karena Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa
siapa yang membenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan membenci satu
saja dari ajaran beliau, merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak
mendapatkan kebaikan dan barokah. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar